Trading dan Investasi
ad1
Iklan Gratis
Kehamilan Beresiko karena Kista
Alam Semesta
Januari 10, 2017
Kista adalah momok bagi semua wanita karena efeknya bisa
nggak punya anak seumur hidup. Yang terburuk bahkan kematian. Coba simak pengalaman seorang ibu yang
terkena kista berikut ini. Semoga kita semua bisa mengambil manfaat dari
pengalaman beliau.
Ibu Nia adalah seorang ibu muda yang tidak bekerja. Beliau
baru saja menikah dan sedang dalam program instensif kehamilan. Bukan program
yang dikontrol oleh seorang dokter melainkan program instensif pribadi saja.
Setahun setelah menikah beliau hamil. Pada pemeriksaan awal
beliau pergi ke bidan karena dekat dengan rumah. Saat diperiksa bidan mendapati
perut ibu nia cenderung lebih keras untuk kehamilan yang berumur sebulan.
Karena itu beliau merujukkan bu Nia ke rumah sakit ibu dan anak.
Ternyata dugaan sang bidan benar, ada kista yang sangat
besar membentang melintangi rahim. Dokter menyatakan jika kista tersebut
berukuran cukup besar dan lebih dari 10 cm. Pada saat itu terungkap bahwa rasa
sakit saat haid adalah tanda-tanda pertumbuhan kista. Bu Nia menyatakan saat
haid rasanya seperti diremas-remas. Saking sakitnya seringkali perut perlu
dikompres menggunakan air hangat. Bahkan secara fisik terlihat perut ibu nia
memang sedikit buncit. Sayang sekali tidak sedari dulu diperiksakan ke dokter
sehingga kista ditemukan terlambat.
Kista
yang muncul bersama kehamilan sangat berbahaya dan mengancam nyawa ibu dan
anak. Namun beberapa kasus kista cukup kecil dan saat kehamilan bertambah,
tubuh sang ibu merespon keberadaan kista dan hilang dengan sendirinya. Namun,
mungkin karena kista sudah terlalu besar, dia tidak mengecil, bahkan cenderung
membesar.
Saat
usia kandungan mencapai 3 bulanan, Keberadaan kista itu mulai mengganggu
kehamilan. Terjadi kontraksi berupa rasa nyeri dan kaku diatas pusar. Sempat
terjadi kram beberapa kali pada otot perut. Karena datangnya kram bisa sangat
mengancam bayi yang sudah berumur 3 bulan maka dokter menyarankan untuk
mengangkat kista tersebut.
Operasi
yang dilakukan pada pasien yang hamil adalah tindakan medis dengan resiko
berganda. Karena pengobatan tidak boleh berlebihan, pilihannya terbatas, dan
operasi harus dilakukan saat ibu terjaga (tidak bileh bius total). Karena itu
operasi ini membutuhkan tim dokter yang lengkap supaya saat kritis cukup banyak
resiko bisa ditangani.
Akhirnya
Ibu Nia menyetujui operasi pengangkatan kista alias kisektomi. Operasi ini sama
besarnya dengan operasi cesar. Namun ada mukjizat terjadi. Kista yang besar itu
setelah pembedahan diketahui menempel pada dinding luar rahim. Dan itu menjadi
sangat-sangat mempermudah kisektomi sekaligus memperkecil resiko.
Selama
6 jam operasi akhirnya kista berhasil diangkat. Ternyata besarnya lebih dari
yang tertangkap kamera usg, mungkin karena itu menyebabkan rahim kram. Kista
tersebut kemudian diperiksa oleh dokter untuk menentukan jenisnya. Kembali
keberuntungan muncul bahwa kista tidak termasuk yang ganas sehingga tidak perlu
kemoterapi.
Saat
7 bulan ibu nia mengalami kontraksi yang hebat. Dokter menduga ada hubungannya
dengan bekas luka operasi namun belum bisa dipastikan penyebab utamanya. Namun
dengan beberapa obat penenang khusus ibu hamil, kontraksi bisa diredam.
Setelah
usia kehamilan cukup maka dokter melakukan operasi cesar untuk mengeluarkan
bayi karena bekas operasi sebelumnya dianggap masih belum 100% sembuh sehingga
melahirkan secara normal tidak diijinkan.
Syukur,
proses melahirkan lancar dan bu Nia bisa kembali ke rumah 3 minggu setelah
menjalani recovery pasca operasi cesar. Sang bayi selamat dan sehat sampai
sekarang.
Dari
sini kita harus belajar dari bu Nia bahwa jika haid anda sakit maka rahim anda
berpotensi kista. Jika perut anda agak buncit maka anda berpotensi kista.
Meskipun hanya potensi, sebaiknya anda memeriksakan diri ke dokter dan
memastikan dalam perut anda tidak terjadi apa-apa. Daripada menyesal kemudian.
Beberapa tips mengenai operasi cesar dan penyembuhannya bisa dibaca disini
Tidak ada komentar :
Posting Komentar
Leave A Comment...